To My Class

When The World Knows

Archive for Komunikasi Massa

Teori Agenda Setting

Dari beberapa asumsi mengenai efek komunikasi massa, satu yang bertahan dan bekembang dewasa ini menganggap bahwa media massa dengan memberikan perhatian pada issue tertentu dan mengabaikan yang lainnya, akan memiliki pengaruh terhada[ pendapat umum. Orang akan cenderung mengetahui tentang hal-hal yang di beritakan media massa terhadap isu-isu yang berbeda.
Teoritisi utama agenda setting adalah Maxwell McCombs dan Donald shaw. Mereka menuliskan bahwa audience tidak hanya mempelajari berita-berita dalam hal-hal lainnya melalui media massa, tetapi juga mempelajari seberapa besar arti penting diberikan pada suatu isu topik dari cara media massa memberikan penekanan terhadap topik tersebut. Misalnya dalam merefleksikan apa yang dikatakan oleh para kandidat dalam suatu kampanye pemilu, media massa terlihat menentukan mana yang topik yang penting.
Asumsi Agenda Setting ini memiliki kelebihan karena mudah dipahami dan relative mudah untuk diuji. Dasar pemikirannya adalah diantara berbagai topic yang dimuat media massa, topic yang mendapat lebih banyak perhatian dari media akan menjadi lebih akrab bagi pembacanya dan akan dianggap penting dalam suatu periode waktu tertentu, dan akan terjadi sebaliknya bagi topik yang kurang mendapat perhatian dari media.
Pada tahun 1976, McCombs dan Shaw mengambil kasus Watergate sebagai ilustrasi dari fungsi agenda setting. Mereka menunjukkan bahwa sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru dalam mengungkap kasus politik yang korup, tetapi pemberitaan surat kabar yang sangat intensif dan diikuti oleh penayangan dengar pendapat di dewn perwakilan melalui televise, telah membuat kasus Watergate menjadi ‘topic of the year’.

Budaya Pop

Ada sejumlah cara penggunaan istilah budaya pop. Sebagai contoh, ini bisa merujuk pada bahwa apa yang ‘ditinggalkan’ setelah standard budaya tinggi telah diputuskan berdasarkan atau untuk budaya yang diproduksi-massal oleh industri budaya. Perspektif ini senada dengan karya Leavis dan Adorno yang memandang budaya pop sebagai sesuatu yang lebih rendah dari partenernya dalam pembagian biner. Dalam memikirkan kebudayaan secara lebih serius.
Pemahaman budaya pop yang dianut oleh kritikus yang tidak menyukai budaya komoditas namun tidak ingin mengutuk sepenuhnya budaya ini adalah mempertentangkan budaya massa dengan budaya rakyat yang dihasilkan oleh masyarakat.
Budaya pop terutama adalah suatu budaya yang diproduksi secara komersial dan tidak ada alas an untuk berpikir bahwa tampaknya ia akan berubah di masa yang akan datang. Namun dikatakan bahwa audien pop menciptakan makna mereka sendiri melalui teks budaya pop dan melahirkan kompetensi budaya dan sumber daya diskursif mereka sendiri. Budaya pop dipandang sebagai makna dan praktik yang dihasilkan oleh audien pop pada saat konsumsi dan studi budaya pop terpusat paa bagian yang digunakan.

Kebudayaan dan Praktik Pemaknaan

Kebudayaan terkait dengan pertanyaan tentang makna sosial yang dimiliki bersama, yaitu berbagai cara kita memahami dunia ini. Tetapi, makna tidak semata-mata mengawang-awang di luar sana, melainkan mereka dibangun melalui tanda khusunya tanda-tanda bahasa.
Cultural Studies menyatakan bahasa bukanlah media netral bagi pembnetukan makna dan pengetahuan tentang dunia objek indipenden yang ada di luar bahasa, tapi ia merupakan bagian utama dari makna dan pengetahuan tersebut.
Bagian terbesar cultural studies terpusat pada pertanyaan tentang representasi, yaitu bagaimana dunia dikonstruksi dan direpresentasikan secara sosial kepada dan oleh kita. Unsur utama Cultural Studies dapat dipahami sebagai studi kebudayaan sebagai praktik pemaknaan representasi.
Cultural Studies berusaha menghubungkan mereka dengan ekonomi politik, suatu disiplin yang membahas kekuasaan dan distribusi sumber daya ekonomi dan sosial. Kebudayaan dipandang memiliki makna, aturan dan praktik sendiri yang tidak dapat direduksi menjadi, atau hanya dijelaskan di dalam, kategori atau level lain bangunan sosial.
Kebudayaan dipandang memiliki makna, aturan dan praktiknya sendiri yang tidak dapat direkduksi menjadi, atau hanya dapat dijelaskan di dalam, kategori atau level lain bangunan sosial.

Cultural Studies

Cultural Studies

Cultural Studies (CS) dibangun oleh permainan bahasa (language games) cultural itu sendiri. Istilah-istilah teoritis yang dikembangka dan digunakan oleh orang-orang yang menyebut karya mereka sebagai cultural studies itulah yang disebut dengan cultural studies.
Cultural Studies selalu merupakan bidang penelitian multi dan post disipliner yang mengaburkan batas-batas antara dirinya dan subjek lain. Namun Cultural Studies (CS) tidak dapat didefinisikan secara sembarangan, kata Hall ada sesuatu yang diperbincangkan dalam cultural studies yang membedakan dirinya dari wilayah subjek lain.
Bagi Hall yang diperbincangkan adalah hubungan Cultural Studies dengan persoalan kekuasaan dan politik, dengan kebutuhan akan perubahan dan dengan representasi atas dan ‘bagi’ kelompok-kelompok social yang terpinggirkan, khususnya kelas, gender dan ras. Dengan demikian, cultural studies adalah satu teori yang dibangun oleh pemikir yang memandang produksi pengetahuan teoritis sebagai praktik politik. Disini, pengetahuan tidak pernah menjadi fenomena netral atau objektif melainkan posisionalitas, soal dari mana orang berbicara, kepada siapa dan untuk tujuan apa.
Cultural Studies merupakan suatu bangunan diskursif, yaitu jejak-jejak (atau bangunan) pemikiran, citra dan praktis, yang menyediakan cara-cara untuk berbicara, bentuk-bentuk pengetahuan dan tindakan yang terkait dengannya tentang topic, aktivitas social tertentu atau arena institusional dalam masyarakat. Cultural studies dibangun oleh suatu cara yang tertata di sekeliling konsep-konsep kunci, ide dan pokok perhatian. Terlebih lagi, cultural studies memiliki suatu momen ketika dia menamai dirinya, meskipun penamaan itu hanya menandai penggalan atau kilasan dari suatu proyek intelektual yang terus berubah.
Banyak praktisi Cultural studies menentang pembentukan batas-batas disipliner bidang ini. Dalam konteks itu, Bennet (1998) menawarkan ‘elemen definisi’ cultural studies :
1. cultural studies adalah suatu arena interdisipliner di
mana perspektif dari disiplin yang berlainan secara selektif
dapat diambil dalam rangka menguji hubungan antara
kebudayaan dan kekuasaan.
2. cultural studies terkait dengan semua praktik, institusi dan
system klasifikasi yang tertanam dalam nilai-nilai,
kepercayaan, kompetensi , rutinitas kehidupan dan bentuk-
bentuk kebiasaan perilaku suatu masyarakat (Bennet, 1998)
3. Bentuk-bentuk kekuasaan yang dieksplorasi oleh cultural
studies beragam termasuk gender, ras, kelas,kolonialisme,dll.
Cultural Studies berusaha mengeksplorasi hubungan antara
bentuk-bentuk kekuasaan ini dan berusaha mengembangkan
cara berfikir tentang kebudayaan dan kekuasaan yang dapat
dimanfaatkan oleh sejumlah agen dalam upayanya melakukan
perubahan.
4. Arena institusional utama bagi cultural studies adalah
perguruan tinggi dan dengan demikian cultural studies menjadi seperti disiplin akademis lain.

EMPAT TEORI PERS

EMPAT TEORI PERS

Pendahuluan
Pers selalu mengambil bentuk dan warna struktur-struktur social politik di dalam mana ia beroperasi. Terutama, pers mencerminkan system pengawasan social dengan mana hubungan antara orang dan lembaga diatur. Orang harus melihat pada system-sistem masyarakat dimana per situ berfungsi. Untuk melihat system-sistem social dalam kaitan yang sesungguhnya dengan pers, orang harus melihat keyakian dan asumsi dasar yang dimiliki masyarakat itu : hakikat manusia, hakikat masyarakat dan Negara, hubungan antar manusia dengan Negara, hakikat pengetahuan dan kebenaran. Jadi pada akhirnya perbedaan pada system pers adalah perbedaan filsafat.

Teori Pers Otoritarian
Muncul pada masa iklim otoritarian di akhir Renaisans, segera setelah ditemukannya mesin cetak. Dalam masyarakat seperti itu, kebenaran dianggap bukanlah hasil dari masa rakyat, tetapi dari sekelompok kecil orang –orang bijak yang berkedudukan membimbing dan mengarahkan pengikut-pengikut mereka. Jadi kebenaran dianggap harus diletakkan dekat dengan pusat kekuasaan. Dengan demikian pers difungsikan dari atas ke bawah. Penguasa-penguasa waktu itu menggunakan pers untuk memberi informasi kepada rakyat tentang kebijakan-kebijakan penguasa yang harus didukung. Hanya dengan ijin khusus pers boleh dimiliki oleh swasta, dan ijin ini dapat dicabut kapan saja terlihat tanggungjawab mendukung kebijaksanaan pekerjaan tidak dilaksanakan. Kegiatan penerbitan dengan demikian merupakan semacam persetujuan antara pemegang kekuasaan dengan penerbit, dimana pertama memberikan sebuah hak monopoli dan ang terakhir memberikan dukungan. Tetapi pemegang kekuasaan mempunyai hak untuk membuat dan merubah kebijaksanaan, hak memberi ijin dan kadang-kadang menyensor. Jelas bahwa konsep pers seperti ini menghilangkan fungsi pers sebagai pengawas pelaksanaan pemerintahan.
Praktek-praktek otoritarian masih ditemukan di seluruh bagian dunia walalupun telah ada dipakai teori lain, dalam ucapan kalaupun tidak dalam perbuatan, oleh sebagian besar Negara komunis.

Teori Pers Libertarian
Teori ini memutarbalikkan posisi manusia dan Negara sebagaimana yang dianggap oleh teori Otoritarian. Manusia tidak lagi dianggap sebagai mahluk berakal yang mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah, antara alternative yang lebih baik dengan yang lebih buruk, jika dihadapkan pada bukti-bukti yang bertentangan dengan pilihan-pilihan alternative. Kebenaran tidak lagi dianggap sebagai milik penguasa. Melainkan, hak mencari kebenaran adalah salah satu hak asasi manusia. Pers dianggap sebagai mitra dalam mencari kebenaran.
Dalam teori Libertarian, pers bukan instrument pemerintah, melainkan sebuah alat untuk menyajikan bukti dan argument-argumen yang akan menjadi landasan bagi orang banyak untuk mengawasi pemerintahan dan menentukan sikap terhadap kebijaksanaannya. Dengan demikian, pers seharusnya bebas sari pengawasan dan pengaruh pemerintah. Agar kebenaran bisa muncul, semua pendapat harus dapat kesempatan yang sama untuk didengar, harus ada pasar bebas pemikiran-pemikiran dan informasi. Baik kaum minoritas maupun mayoritas, kuat maupun lemah, harus dapat menggunakan pers.
Sebagian besar Negara non komunis, paling tidak di bibir saja, telah menerima teori pers Libertarian. Tetapi pada abad ini telah ada aliran-aliran perubahan. Aliran ini berbentuk sebuah Otoritarianisme baru di Negara-negara komunis dan sebuah kecenderungan kearah Liberitarianisme baru di Negara-negara non komunis.

Teori Pers Tanggungjawab Sosial
Teori ini diberlakukan sedemikian rupa oleh beberapa sebagian pers. Teori Tanggungjawab social punya asumsi utama : bahwa kebebasan, mengandung didalamnya suatu tanggung jawab yang sepadan; dan pers yang telah menikmati kedudukan terhormat dalam pemerintahan Amerika Serikat, harus bertanggungjawab kepada masyarakat dalam menjalankan fungsi-fungsi penting komunikasi massa dalam masyarakat modern. Asal saja pers tau tanggungjawabnya dan menjadikan itu landasan kebijaksanaan operasional mereka, maka system libertarian akan dapat memuaskan kebutuhan masyarakat. Jika pers tidak mau menerima tanggungjawabnya, maka harus ada badan lain dalam masyarakat yang menjalankan fungsi komunikasi massa.
Pada dasarnya fungsi pers dibawah teori tanggungjawab social sama dengan fungsi pers dalam teori Libertarian. Digambarkan ada enam tugas pers :
1. Melayani sistem politik dengan menyediakan informasi, diskusi dan perdebatan tentang masalah-masalah yang dihadapi masyarakat.
2. Memberi penerangan kepada masyarakat, sedemikian rupa sehingga masyarakat dapat mengatur dirinya sendiri.
3. Menjadi penjaga hak-hak perorangan dengan bertindak sebagai anjing penjaga yang mengawasi pemerintah.
4. Melayani system ekonomi dengan mempertemukan pembeli dan penjual barang atau jasa melalui medium periklanan,
5. Menyediakan hiburan
6. mengusahakan sendiri biaya financial, demikian rupa sehingga bebas dari tekanan-tekanan orang yang punya kepentingan.

Teori Pers Soviet Komunis

Dalam teori Soviet, kekuasaan itu bersifat sosial, berada di orang-orang, sembunyi di lembaga-lembaga sosial dan dipancarkan dalam tindakan-tindakan masyarakat.

Kekuasaan itu mencapai puncaknya (a) jika digabungkan dengan semberdaya alam dan kemudahan produksi dan distribusi , dan (b) jika ia diorganisir dan diarahkan.

Partai Komunis memiliki kekuatan organisasi ini. partai tidak hanya menylipkan dirinya sendiri ke posisi pemimpin massa; dalam pengertian yang sesungguhnya, Partai menciptakan massa dengan mengorganisirnya dengan membentuk organ-organ akses dan kontrol yang merubah sebuah populasi tersebar menjadi sebuah sumber kekuatan yang termobilisir.

Partai mengganggap dirinya sebagai suatu staf umum bagi masa pekerja. Menjadi doktrin dasar, mata dan telinga bagi massa.

Negara Soviet bergerak dengan program-program paksaan dan bujukan yang simultan dan terkoordinir. Pembujukan adalah tanggungjawabnya para agitator, propagandis dan media.

Komunikasi massa digunakan secara instrumental, yaitu sebagai instrumen negara dan partai.

Komunikasi massa secara erat terintegrasi dengan instrumen-instrumen lainnya dari kekuasaan negara dan pengaruh partai.

Komunikasi massa digunakan untuk instrumen persatuan di dalam negara dan di dalam partai.

Komunikasi massa hampir secara ekslusif digunakan sebagai instrumen propaganda dan agitasi.

Komunikasi massa ini punya ciri adanya tanggungjawab yang dipaksakan.

Teori Masyarakat Massa

Teori Masyarakat Massa

Teori ini menekankan ketergantungan timbal balik antar institusi yang memegang kekuasaan dan integrasi media terhadap timbal balikantar institusi yang memegang kekuasaan dan integasi media terhadap kekuasaan sosial dan otoritas. Dengan demikian isi media cenderung melayani kepentingan pemegang kekuasaan politik dan ekonomi. Namun demikian, meskipun media tidak bisa diharapkan menyuguhkan pandangan kritis atau tinjauan lain, menyangkut masalah kehidupan, media tetap memiliki kecenderungan untuk membantu publik bebas dalam menerima keberadaannya sebagaimana adanya.

Teori masyarakat massa memberi kedudukan terhormat kepada media sebagai penggerak dan pengaman teori masyarakat massa. Teori ini juga sangat mengunggulkan gagasan yang menyatakan bahwa media menyuguhkan pandangan tentang dunia, semacam pengganti atau lingkungan semu (pseudo-environment) yang disatu pihak merupakan sarana ampuh untuk memanipulasi orang, tetapi di lain pihak merupakan alat bantu bagi kelanjutan ketenangan psikisnya dalam kondisi yang sulit.

- Marxisme ; Pandangan Klasik

Media merupakan alat produksi yang disesuaikan dengan tipe umumn industri kapitalis beserta faktor produksi dan hubungan produksinya. Media cenderung dimonopoli oleh kelas kapitalis, yang penangannya dilaksanakan baik secara nasional maupun internasional untuk memenuhi kepentingan kelas sosial terseut. Para kapitalis melakukan hal tersebut dengan mengeksploitasi pekerja budaya dan konsumen secara material demi memperoleh keuntungan yang berlebihan. Para kapitalis tersebut bekerja secara ideologis dengan menyebarkan ide dan cara pandang kelas penguasa, yang menolak ide lain yang dianggap berkemungkinan untuk menciptakan perubahan atau mengarah ke terciptanya kesadaran kelas pekerja akan kepentingaannya.

Teori Alternatif tentang Media Dan Masyarakat

Teori Alternatif tentang Media Dan Masyarakat

Teori ilmu pengetahuan sosial menyangkut media telah dikembangkan untuk merumuskan dan memberikan jawaban sementara terhadap sejumlah masalah utama mengenai mekanisme kerja sistem komunikasi publik dalam masyarakat. Walaupun jumlah masalah itu sangat banyak, namun dapat dikategorikan ke dalam kedalam tiga masalah mendasar yang berkenaan dengan penggunaan kekuasaan dalam masyarakat, integrasi sosial dan perubahan sosial.

Yang pertama ialah pengamatan yang menilai bahwa mekanisme kerja media massa dalam masyarakat pada dasarnya seringkali tidak konsisten, dan bahkan seringkali kegiatan yang satu bertentangan dengan kegiatan yang lainnya. Kenyataan ini terjadi bukan saja karean adanya perbedaan penafsiran terhadap suatu fakta, tetapi juga karena adanya konflik nilai yang mendasardan konflik kepentingan dalam masyarakat. Penuntun untuk memahami masalah tersebut disajikan dalam sosiologi ole Burrel dan Morgan dan keterkaitannya dengan komunikasi massa dibahas oleh Rosengren. Mereka mengemukakan bahwa bidang sosilogi telah dibagi kedalam dua dimensi, yang bisa ditampilkan dalam gambar secara berdampingan memungkinkan kita membuat emapt paradigma utama.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.